Rabu, 28 Desember 2016

ASAL DAN PERANAN FILSAFAT


ASAL DAN PERANAN FILSAFAT
a.       Asal filsafat
Ada tiga hal yang mendorong manusia untuk ‘berfilsafat’, yaitu sebagai berikut:
1.       Keheranan
Banyak filsuf menunjukan rasa heran (dalam bahasa yunani thaumasia) sebagai asal filsafat. Plato misalnya mengatakan: “mata kita member pengamatan bintang-bintang, matahari, dan langit. Pengamatan ini member dorongan untuk menyelidiki. Dari penyelidikan ini berasal filsafat”.
2.       Kesangsian
Filsuf-filsuf lain, seperti Augustius (254-430 M) dan Rene Descartes (1596-1650 M) menunjukan kesangsian sebagai sumber utama pemikiran. Manusia heran, tetapi kemudian ia ragu-ragu. Apakah ia tidak ditipu oleh pancaindranya kalau ia heran? Apakah kitatidak hanya melihat yang ingin kita lihat? Dimana dapat ditemukan kepastian? Karena dunia ia penuh dengan berbagai pendapat, keyakinan, dan interpretensi.
3.       Kesadaran akan keterbatasan
Manusia memulai berfilsafat jika ia menyadari bahwa dirinya sangat kecil dan lemah terutama bila dibandingkan dengan alam sekelilingnya. Manusia merasa bahwa ia sangat terbatas dan terikat terutama pada waktu mengalami penderitaan atau kegagalan. Dengan kesadaranakan keterbatasan dirinya manusia mulai berfilsafat. Ia mulai memikirkan bahwa diluar manusia yang terbatas pasti ada sesuatu yang tidak terbatas (Harry Hamersman 1988, 11)
b.      Peranan filsafat
Menyimak sebab-sebab kelahiran filsafat dan proses pertimbangannya, sesungguhnya filsafat telah memerankan sedikitnya tiga peranan utama dalam sejarah pemikiran manusia. Ketiga peranan yang telah diterapkan ialah sebagai pendobrak, pemberantas, dan pembimbing. (Jon Hendrik Rapar, 1996, 25-27).
1.       Pendobrak
Berabad-abad lamanya intelektualitas manusia tertawan dalam penjara tradisi dan kebiasaan. Dalam penjara itu, manusia terlena dalam alam mistik yang penuh sesak dengan hal-hal penuh rahasia yang terungkap lewat berbagai mitos dan mite. Manusia manerima begitu saja penuturan dongeng dan thayul tanpa mempersoalkan lebih lanjut. Orang beranggapan bahwa segala dongeng dan tahayul merupakan bagian yang hakiki dari sebuah warisan tradisional nenek moyang, sedangkan tradisi itu benar dan tidak dapat diganggu-gugat, maka dongeng dan tahayul itu sudah pasti benar dan tidak dapat diganggu gugat.
Oleh sebab itu, orang-orang Yunani yang dikatakan memiliki suatu “rasionalitas yang luar biasa”, juga pernah percaya kepada dewi-dewi duduk dimeja Olympus sambil mengucapkan kayangan dengan sorakan dan gelak tawa tidak henti-hentinya. Mereka percaya kepada dewi-dewi yang saling menipu satu samalain, licik, sering memberontak, dan kadang kala seperti anak-anak nakal.
Keadaan tersebut berlangsung cukup lama. Kehadiran filsafat telah mendobrak pintu dan tembok tradisi yang begitu sacral dan selama itu tidak boleh diganggu gugat. Kendati pendobrakan itu membutihkan waktu yang cukup panjang, kenyataan sejarah telah membuktikan bahwa filsafat benar-benar telah berperan selaku pendobrak yang mencengangkan.
2.       Pembebas
Filsafat bukan sekedar pendobrak pintu penjara tradisi dan kebiasaan yang penuh dengan mitos dan mite itu,, melainkan juga merenggut manusia keluar dari dalam penjara itu. Filsafat membebaskan manusia dari kekurangan dan kemiskinan pengetahuan yang menyebabkan manusia menjadi picik dan dangkal. Filsafat pun membebaskan manusia dari cara berfikir yang tidak teratur dan tidak jernih. Filsafat juga membebaskan manusia dari cara berfikir yang tidak keritis yang membuat manusia mudah menerima berbagai kebenaran semu yang menyesatkan.
Secara ringkas dapat dikatakan bahwa filsafat membebaskan manusia dari segala jenis “penjara” yang hendak mempersempit ruang gerak akal budi manusia.
3.       Pembimbing.
Bagaimana filsafat dapat membebaskan manusia dari berbagai macam “penjara” yang hendak mempersempit ruang gera akal budi manusia itu? Sesungguhnya, filsafat hanya sanggup melakukan perannya selaku pembimbing.
        Filsafat membebaskan manusia dari cara berfikir mistis dan miste dengan membimbing manusia untuk berfikir secara rasional. Filsafat membebaskan manusia dari cara berfikir yang picik dan dangkal dengan membimbing manusia secara luas dan mendalam, yakini berfikir secara universal sambil berupaya mencapai radix dan menemukan esensi satu permasalahan. Filsafat membebaskan manusia dari cara berfikir yang tidak teratur dan tidak jernih dengan membimbing manusia untuk berfikir secara sistematis dan logis. Filsafat membebaskan manusia dari cara berfikir utuh dan begitu fragmentaris dengan membimbing manusia untuk berfikir secara integral dan koheren.

Filsafat Psikologi Etika

Filsafat Psikologi Etika

Kata yang cukup dekat dengan etika adalah “moral”. Kata ini berasal dari bahasa Latin “mos” (jamak;mores) yang berarti juga: kebiasaan atau adat. Dalam bahasa Inggris dan banyak bahasa lain, termasuk bahasa Indonesia kata “mores” masih dipakai dalam arti yang sama. Jadi, etimologi kata etika sama dengan etimologi kata “moral”, karena keduanya berasal dari kata yang berarti adat kebiasaan. Sedangkan menurut Murtanto dan Marini (2003), etika profesi itu merupakan karakteristik suatu profesi yang membedakan suatu profesi dengan profesi lain, yang berfungsi untuk mengantur tingkah laku anggotanya. Menurut Agoes (2004), setiap profesi yang memberikan pelayanan jasa masyarakat harus memiliki kode etik, yang merupakan seperangkat prinsip-prinsip moral yang mengatur tentang perilaku profesional.
Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis(tindakan) manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma. Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma moral, norma agama dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang-undangan, norma agama berasal dari agama, sedangkan norma moral berasal dari suara batin. Norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari sedangkan norma moral berasal dari etika. Etika berarti moral sedangkan etiket berarti sopan santun. Etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya.
Etika disebut juga filsafat moral adalah cabang filsafat yang berbicara tentang praxis (tindakan) manusia. Etika tidak mempersoalkan keadaan manusia, melainkan mempersoalkan bagaimana manusia harus bertindak. Tindakan manusia ini ditentukan oleh bermacam-macam norma. Norma ini masih dibagi lagi menjadi norma hukum, norma moral, norma agama dan norma sopan santun. Norma hukum berasal dari hukum dan perundang-undangan, norma agama berasal dari agama, sedangkan norma moral berasal dari suara batin. Norma sopan santun berasal dari kehidupan sehari-hari sedangkan norma moral berasal dari etika. Etika berarti moral sedangkan etiket berarti sopan santun. Etika akan memberikan semacam batasan maupun standar yang akan mengatur pergaulan manusia di dalam kelompok sosialnya.
Dalam pengertiannya yang secara khusus dikaitkan dengan seni pergaulan manusia, etika ini kemudian digambarkan dalam bentuk aturan (code) tertulis yang secara sistematik sengaja dibuat berdasarkan prinsip-prinsip moral yang ada dan pada saat yang dibutuhkan akan bisa difungsikan sebagai alat untuk menghakimi segala macam tindakan yang secara logika-rasional umum (common sense) dinilai menyimpang dari kode etik. 
Sumber:
M. Hosnan. 2014. Pendekatansaintifikdan Konseptual Dalam Pembelajaran Abad 21. Bogor. Ghalia Indonesia

Perbandinagn antara Pendidikan Tradisional dan Modern

Pendidikan Tradisional dan Modern

Pendidikan tradisional (konsep lama) sangat menekankan pentingnya penguasaan bahan pelajaran. Menurut konsep ini rasio ingatanlah yang memegang peranan penting dalam proses belajar di sekolah. dan menengah sejak paruh kedua abak ke-19, dan mewakili puncak pencarian elektik atas ‘satu sistem terbaik’. Ciri utama pendidikan tradisional termasuk : 
  1. Anak-anak biasanya dikirim ke sekolah di dalam wilayah geografis distrik tertentu, 
  2. Mereka kemudian dimasukkan ke kelas-kelas yang biasanya dibeda-bedakan berdasarkan umur, 
  3. Anak-anak masuk sekolah di tiap tingkat menurut berapa usia mereka pada waktu itu, 
  4. Mereka naik kelas setiap habis satu tahun ajaran,
  5. Prinsip sekolah otoritarian, anak-anak diharap menyesuaikan diri dengan tolok ukur perilaku yang sudah ada,
  6. Guru memikul tanggung jawab pengajaran, berpegang pada kurikulum yang sudah ditetapkan, 
  7. Sebagian besar pelajaran diarahkan oleh guru dan berorientasi pada teks, 
  8. Promosi tergantung pada penilaian guru, 
  9. Kurikulum berpusat pada subjek pendidik,
  10. Bahan ajar yang paling umum tertera dalam kurikulum adalah buku-buku teks.
Lebih lanjut menurut Vernon Smith, pendidikan tradisional didasarkan pada beberapa asumsi yang umumnya diterima orang meski tidak disertai bukti keandalan atau kesahihan. Umpamanya: 
  1. Ada suatu kumpulan pengetahuan dan keterampilan penting tertentu yang musti dipelajari anak-anak; 
  2. Tempat terbaik bagi sebagian besar anak untuk mempelajari unsur-unsur ini adalah sekolah formal, dan
  3. Cara terbaik supaya anak-anak bisa belajar adalah mengelompokkan mereka dalam kelas-kelas yang ditetapkan berdasarkan usia mereka.
Ciri yang dikemukan Vernon Smith ini juga dialami oleh pendidikan Islam di Indonesia sampai dekade ini. Misalnya : Sebagian Pesantren, Madrasah, dan lembaga-lembaga pendidikan Islam yang lain masih menganut sistem lama, kurikulum ditetapkan merupakan paket yang harus diselesaikan, kurikulum dibuat tanpa atau sedikit sekali memperhatikan konteks atau relevansi dengan kondisi sosial masyarakat bahkan sedikit sekali memperhatikan dan mengantisipasi perubahan zaman, sistem pembelajaran berorientasi atau berpusat pada guru. Paradigma pendidikan tradisional bukan merupakan sesuatu yang salah atau kurang baik, tetapi model pendidikan yang berkembang dan sesuai dengan zamannya, yang tentu juga memiliki kelebihan dan kelemahan dalam memberdayakan manusia, apabila dipandang dari era modern ini.
Konsep pendidikan modern (konsep baru), yaitu ; pendidikan menyentuh setiap aspek kehidupan peserta didik, pendidikan merupakan proses belajar yang terus menerus, pendidikan dipengaruhi oleh kondisi-kondisi dan pengalaman, baik di dalam maupun di luar situasi sekolah, pendidikan dipersyarati oleh kemampuan dan minat peserta didik, juga tepat tidaknya situasi belajar dan efektif tidaknya cara mengajar. Pendidikan pada masyarakat modern atau masyarakat yang tengah bergerak ke arah modern (modernizing), seperti masyarakat Indonesia, pada dasarnya berfungsi memberikan kaitan antara anak didik dengan lingkungan sosial kulturalnya yang terus berubah dengan cepat.
Shipman yang dikutip Azyumardi Azra bahwa, fungsi pokok pendidikan dalam masyarakat modern yang tengah membangun terdiri dari tiga bagian:
  1. Sosialisasi
  2. Pembelajaran (schooling)
  3. Pendidikan (education)
Pertama, sebagai lembaga sosialisasi, pendidikan adalah wahana bagi integrasi anak didik ke dalam nilai-nilai kelompok atau nasional yang dominan. Kedua, pembelajaran (schooling) mempersiapkan mereka untuk mencapai dan menduduki posisi sosial-ekonomi tertentu dan, karena itu, pembelajaran harus dapat membekalai peserta didik dengan kualifikasi-kualifikasi pekerjaan dan profesi yang akan membuat mereka mampu memainkan peran sosial-ekonomis dalam masyarakat. Ketiga, pendidikan merupakan “education” untuk menciptakan kelompok elit yang pada gilirannya akan memberikan sumbangan besar bagi kelanjutan program pembangunan”

Teori dan Pandangan Tentang Konsep Pendidikan

Teori dan Pandangan Tentang Konsep Pendidikan

Noeng Muhadjir (2000: 21) menjelaskan beberapa teori pendidikan yaitu unfoldment theory, formal discipline theory, dan preparation theory. Menurut unfoldment theory tugas pendidikan adalah membuka atau mengeluarkan potensi laten diarahkan ke tujuan tertentu. Tujuan tersebut bukan sesuatu di luar subyek, melainkan sebagai potensi dalam subyek itu sendiri; dan tujuan tersebut tidak lain adalah tuntas atau sempurnanya aktualiasi potensi itu sendiri.
Menurut formal discipline theory, hasil pendidikan haruslah berupa terbentuknya kemampuan yang dapat digunakan untuk mengerjakan hal-hal penting apapun. Asumsi yang mendasarinya adalah ada kemampuan yang bersifat umum yang dapat dioperasikan pada kasus-kasus spesifik manapun. 
Menurut preparation theory pendidikan berfungsi untuk mempersiapkan subyek-didik untuk dapat melaksanakan tugas secara sempurna. Tugas pertama yang tampak oleh penganut teori ini adalah tugas sebagai orang dewasa. Secara kumulatif aktifitas pendidikan (sebagai obyek studi) meliputi: menuntun-melayani, mengeluarkan potensi laten, mengembangkan, membentuk, kemampuan umum, dan mempersiapkan.
Selain itu, ada beberapa pandangan tentang konsep pendidikan, antara lain:
1. Pendidikan sebagai manifestasi (education as manifestation).
Dengan analogi pertumbuhan bunga atau benih, dikatakan bahwa pendidikan adalah suatu proses untuk menjadikan manifes (tampak aktual) apa-apa yang bersifat laten (tersembunyi) pada diri setiap anak.
2. Pendidikan sebagai akuisisi (education as acquisition)
Dengan analogi spon, pendidikan digambarkan sebagai upaya untuk mengembangkan kemampuan seseorang dalam memperoleh (menyerap) informasi dari lingkungannya.
3. Pendidikan sebagai transaksi (education as transaction)
Dengan analogi orang Eskimo di Baffin Bay yang “berinteraksi” (work together) dengan bebatuan yang ada di lingkungannya untuk membuat rumah batu (stone sculpture) yang secara organic sesuai dengan materialnya dan selaras dengan kemampuan pembuatnya. Pendidikan adalah proses memberi dan menerima (give and take) antara manusia dengan lingkungannya. Di sana seseorang mengembangkan atau menciptakan kemampuan yang diperlukan untuk memodifikasi atau meningkatkan kondisinya dan juga lingkungannya. Sebagaimana pula di sana dibentuk perilaku dan sikap-sikap yang akan membimbing pada upaya rekonstruksi manusia dan lingkungannya (P.H. Hirst & R.S. Peters).
Sumber:
  • Henderson, SVP, Introduction to Philosophy of Education.Chicago : Univ. of Chicago Press, 1954.
  • Heryanto, Nunu, Pentingnya Landasan Filsafat Ilmu Pendidikan Bagi Pendidikan (Suatu Tinjauan Filsafat Sains).
  • Kneller, George F. , Introduction to the Philosophy of Education. John Willey Sons Inc, New York, 1971.

Filsafat Modern Positivisme

Filsafat Modern Positivisme

Positivisme merupakan Aliran pemikiran yang membatasi pikiran pada segala hal yang dapat dibuktikan dengan pengamatan atau pada analisis definisi dan relasi antara istilah-istilah. Positivisme (disebut juga sebagai empirisme logis, empirisme rasional, dan juga neo-positivisme) . Positivisme Logis berpendapat bahwa filsafat harus mengikuti rigoritas yang sama dengan sains. Filsafat harus dapat memberikan kriteria yang ketat untuk menetapkan apakah sebuah pernyataan adalah benar, salah atau tidak memiliki arti sama sekali.
Positivisme adalah suatu aliran filsafat yang menyatakan ilmu alam sebagai satu-satunya sumber pengetahuan yang benar dan menolak aktifitas yang berkenaan dengan metafisika. Tidak mengenal adanya spekulasi, semua didasarkan pada data empiris. Positivismemerupakan empirisme, yang dalam segi-segi tertentu sampai kepada kesimpulan logis ekstrim karena pengetahuan apa saja merupakan pengetahuan empiris dalam satu atau lain bentuk, maka tidak ada spekulasi dapat menjadi pengetahuan.
Sejarah Muncul
Pada dasarnya positivisme adalah sebuah filsafat yang menyakini bahwa satu-satunya pengetahuan yang benar adalah yang didasarkan pada pengalaman aktualfisikal. Pengetahuan demikian hanya bisa dihasilkan melalui penetapan teori-teori melalui metode saintifik yang ketat, yang karenanya spekulasi metafisis dihindari. Positivisme, dalam pengertian di atas dan sebagai pendekatan telah dikenal sejak Yunani Kuno. Terminologi positivisme dicetuskan pada pertengahan abad ke-19 oleh salah satu pendiri ilmu sosiologi yaitu Auguste Comte. Comte percaya bahwa dalam alam pikiran manusia melewati tiga tahapan historis yaitu teologi, metadisik, dan ilmiah. Dalam tahap teologi, fenomena alam dan sosial dapat dijelaskan berdasarkan kekuatan spiritual. Pada tahap metafisik manusia akan mencari penyebab akhir (ultimate causes) dari setiap fenomena yang terjadi. Dalam tahapan ilmiah usaha untuk menjelasakn fenomena akan ditinggalkandan ilmuan hanya akan mencari korelasi antarfenomena. Pengembangan penting dalam paham positivisme klasik dilakukan oleh ahli ilmu alam Ernst Mach yang mengusulkan pendekatan teori secara fiksi. Teori ilmiah bermanfaat sebagai alat untuk menghafal, tetapi perkembangan ilmu hanya terjadi bila fiksi yang bermanfaat digantikan dengan pernyataan yang mengandung hal yang dapat diobservasi. Meskipun Comte dan Mach mempunyai pengaruh yang besar dalam penulisan ilmu ekonomi (Comte mempengaruhi pemikiran J.S. Mill dan Pareto sedangkan pandangan Mach diteruskan oleh Samuelson dan Machlup). Pengaruh yang paling utama adalah ide dalam pembentukan filosofi ilmiah pada abad 20 yang disebt logika positivisme (logical positivism).
Sumber:
Bagus Lorenz, Kamus Filsafat penerbit Gramedia Pustaka
Farihin. 2012 (April, 14). Positivisme, tokoh-tokoh Positivisme.
Zakia, Estrella. 2011 (April, 19). Filsafat Positivisme.
Konrad Kebung, Filsafat Ilmu Pengetahuan (Jakarta: Prestasi Pustaka, 2011) hlm. 131-132

PENGERTIAN & FUNGSI PENDIDIKAN

PENGERTIAN dan FUNGSI PENDIDIKAN



Pendidikan merupakan faktor utama dalam pembentukan pribadi manusia. Pendidikan sangat berperan dalam membentuk baik atau buruknya pribadi manusia menurut ukuran normatif. Disisi lain proses perkembangan dan pendidikan manusia tidak hanya terjadi dan dipengaruhi oleh proses pendidikan yang ada dalam sistem pendidikan formal (sekolah) saja. Manusia memiliki sejumlah kemampuan yang dapat di kembangkan melalui pengalaman. Pengalaman itu terjadi karena interaksi manusia dengan lingkungannya baik lingkungan fisik maupun sosial manusia secara efisien dan efektif itulah yang disebut dengan pendidikan dan latar tempat berlangsungnya pendidikan itu disebut lingkungan pendidikan khususnya pada lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat (umar tirtarahrja et. Al;1990:39-40).
     Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran atau pelatihan agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya supaya memiliki kekuatan spritual keagamaan, emosional, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat. Berdasarkan perbedaan ciri-ciri penyelenggaraan pendidikan pada ketiga lingkungan pendidikan itu maka ketiganya sering dibedakan sebagai pendidikan formal, informal, dan non formal. Pendidikan formal, informal, dan nonformal itu sering dipandang sebagai subsistem dari sistem pendidikan (Umar Tirtarahrja et. Al;1990:13-15) serta secara bersama-sama menjadikan pendidikan berlangsung seumur hidup (croplay,1979:3).
Secara umum fungsi lingkungan pendidikan adalah membantu peserta didik dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya (fisik, sosial dan budaya), utamanya berbagai sumberdaya pendidikan yang tersedia agar dapat dicapai tujuan pendidikan yang optimal. Penataan lingkungan pendidikan itu terutama dimaksudkan agar proses pendidikan berkembang efisien dan efektif.

            Dari pembahasan diatas dapat disimpulan, bahwa pendidika merupakan hal yang penting untuk mwujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran, agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilannya.
Fungsi pendidikan yaitu untuk membantu peserta dalam berinteraksi dengan berbagai lingkungan sekitarnya.
Sumber:

Tirtarahardja, Umar dan L. La Sulo. 2013. Pengantar Pendidikan. Rineka Cipta.

INTEGRASI SOSIAL

INTEGRASI SOSIAL



           Tujuan akhir dari upaya penyelesaian konflik adalah mencapai intergrasi sosial. Integrasi dapat dikatakan sebagai upaya pembauran beberapa unsur yang berbeda sehingga dapat bekerja sama dengan unsur lain.
a.      Proses Terwujudnya Integrasi
Proses terwujudnya integrasi diawali terjadinya konflik dalam masyarakat. Konflik yang terjadi kmudian diredam dengan cara akomodasi. Akomodasi tersebut menghasilkan kerja sama antar masyarakat yang berkonflik. Proses kerja sama menghasilkan koordinasi antarpihak yang berkonflik untuk bersatu. Tahap terakhir ialah terjadinya asimilasi antarpihak.
b.      Faktor Pendorong dan Penghambat Integrasi Sosial
1)      Faktor Pendorong Integrasi Sosial
a)      Rasa ingin memiliki.
b)      Konsensus.
c)      Cross-cutting affiliations
d)     Cross-cutting loyalities.
e)      Kesediaan berkorban dami kebaikan bersama.
2)      Faktor Penghambat Integrasi Sosial
a)      Kondisi masyarakat yang terisolasi.
b)      Masyarakat yang kurang memiliki ilmu pengetahuan.
c)      Terdapat perasaan superior satu kelompok.  
Sebelumnya saya membahas tentang konflik sosial, dan sedikit memaparkan dampak positif dan negatifnya serta proses sosial dalam pengendalian konflik. Nah, jika sudah ada upaya penyelesaian konflik, maka tujuan akhirnya adalah integrasi sosial. Dimana yang bertentangan dan berselisih bisa bersatu dan menghasilkan kerjasama antarmasyarakat.
Sumber: Detik-Detik Ujian Nasional Sosiologi Tahun Pelajaran 2015/2016
            Untuk SMA/MA Program IPS